Thursday, March 24, 2011

Misteri Penciptaan Adam a.s (Mysteri of Adam a.s Creation)


Bekas tapak kaki Nabi Adam a.s di Sri Langka

"Dan ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan khalifah di muka bumi. Maka malaikat berkata: Adakah Engkau akan menciptakan manusia yang akan berbuat kerosakan dan saling menumpahkan darah di muka bumi? Sedangkan kami sentiasa mensucikan Engkau dengan memuji Engkau dan juga selalu mensucikan Engkau. Maka Tuhan berkata: Sesungguhnya aku lebih mengetahui semua yang tidak kalian ketahui. " (Al-Baqarah. 30 )

Ayat di atas adalah ayat yang mengemukakan tentang pemberitahuan Allah kepada para malaikat yang akan menciptakan seorang khalifah dimuka bumi, dari ayat diatas akan muncul pertanyaan, kenapa malaikat sudah mengetahui kalau manusia yang akan diciptakan tersebut akan berbuat kerosakan dan saling menumpahkan darah. Sedangkan manusia itu sendiri baru akan diciptakan, Adakah manusia sebelum Adam as yang sudah dicipta dan sudah saling menumpahkan darah? Seandainya sudah ada manusia sebelum Adam yang berbuat kerosakan dan saling menumpahkan darah, maka siapa manusia tersebut?, seandainya belum ada manusia itu, kenapa malaikat sudah mengetahui bahwa manusia itu kelak akan berbuat kerosakan dan saling menumpahkan darah (saling berperang), adakah malaikat sudah mengetahui sesuatu yang belum terjadi?

Dalam ayat diatas ada perbedaan kata-kata yang dikatakan Allah dengan kata-kata yang diucapkan malaikat, dalam firman-Nya, Allah mengatakan bahawa la akan menciptakan seorang khalifah di muka bumi “Ini Ja'ilun fil arldhi khalifah” sedangkan malaikat menganggapnya, bahwa khalifah yang di maksud Allah adalah manusia yang sudah berbuat kerusakan dan saling menumpahkan darah “Man yufsidu fiiha wa yasfiqu ad-dimaa'a”. seandainya memang khalifah yang akan diciptakan Allah ini seperti manusia sebelumnya, maka Allah tidak perlu memberitahu kepada malaikat. Namun karena manusia yang akan diciptakan oleh Allah ini adalah berbeda dengan manusia sebelumnya, maka Allah memberitahukan kepada malaikat, bahwa Allah akan menciptakan lagi seorang manusia yang akan dijadikan khalifah dimuka bumi. Untuk itu Allah menguatkan perkataan-Nya dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui semua yang kalian tidak ketahui”.

Manusia yang kemudian di ciptakan oleh Allah ini adalah Adam, seorang manusia yang diciptakan dari tanah dan bukan seperti manusia sebelumnya yaitu golongan jin yang berbuat kerusakan dan saling berperang menumpahkan darah dan selalu disebut manusia oleh para malaikat. (Jallaludin Muhammad dan Jallaludin Abdi Rahman Tafshir Al-Jalallain Juz I hal.6. Toha Putra Semarang

Proses penciptaan Adam ini diterangkan oleh Ibnu Abas RA: Allah menciptakan Adam AS dari sari pati tanah yang diambil dari seluruh penjuru dunia, kepalanya diambilkan dari tanah yang kini didirikan Baitul Maqdis Palestina, wajahnya diambilkan dari debu syurga, telinganya diambilkan dari tanah bukit Tursina, kening dan dadanya diambilkan dari tanah negara Irak, gigi dan matanya di jadikan dari air telaga Kautsar, tangan kanannya dibuat dari debu tanah tempat berdirinya Kabah, tangan kirinya dibuat dari tanah Faris, kedua kakinya dari tanah yang Hindi, tulangnya dibuat dari debu yang dikumpulkan dari gunung-gunung, perutnya dari tanah Khurosan, hatinya diciptakan dari debu syurga Firdaus, dan lidahnya dibuat dari tanah Thoif. (Imam Abdi Rahman bin Ahmad Al-Qhadhi Daqaiqul Akhbar Hal.3 Nur Asia Semarang)

Sedangkan secara ilmiah, Allah menceritakan proses kejadian Adam dalam Al-Qur'an diantaranya didapati dalam 7 tempat, yaitu:
  1. dan
  2. Dalam surat Ar-Rahman ayat 14: “Dia menjadikan manusia dari shalshal (Tanah kering) kal-fakhar (seperti tembikar)”.
  3. Dalam surat Al-Hijr ayat 28: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan manusia dari shalshal (tanah kering) dari hamain (lumpur hitam)”
  4. Dalam surat As-Sajdah ayat 7: “... Yang menciptakan manusia dari thien (tanah)”
  5. Dalam surat As-Shaffat ayat 11: “Sesungguhnya Aku telah menjadikan mereka dari thien al-lazib (tanah liat)”
  6. Dalam surat Ali Imran ayat 59: “... menjadikan Adam dari thurab (debu)”
  7. Dalam surat Al-Hijr ayat 29: “Maka setelah Aku sempurnakan fisiknya dan kutiupkan ruh-(ciptaan)-Ku kepadanya maka tunduklah dengan bersujud”
Ayat-ayat tersebut adalah ayat yang menceritakan proses kejadian manusia pertama ini baik dari segi jasmaniah maupun rohaniyah, baik dari bentuk atau fisiknya maupun dari ruhnya. Dalam ayat pertama; Ar-Rahman 14, Allah menceritakan bahwa manusia pertama itu diciptakan dari “Shalshal”. Arti Shalshal menurut kamus Arab Indonesia karangan Prof. H. Mahmud Junus adalah Tanah liat yang dapat dibuat belanga (Prof. H. Mahmud Junus Kamus Arab – Indonesia Hal. 220 Yayasan Penyelenggara Penterjemah / Penafsiran Al-Qur’an Jakarta 1973) yang dalam bahasa Jawa disebut lemah lempung. Dan yang dimaksud dengan “Shalshal” dalam proses penciptaan manusia ini adalah zat pembakar (Oksygent). Kata keduanya masih dalam ayat ini adalah “Fakhar”. Arti dari kata ini dalam kamus yang sama adalah tanah Tembikar atau tanah yang dibakar, sedangkan yang dimaksud dari kata ini dalam proses kejadian Adam adalah zat arang (Carbonium). Dalam ayat kedua; surat Al-Hijr 28 Allah menyebutkan dalam proses penciptaan Adam ini dengan kata “Hamain”. Secara bahasa, kata Hamain berarti tanah lumpur hitam dan dalam proses kejadian manusia, kata Hamain dimaksudkan kepada zat lemas (Netrogenium). Ayat ketiga; As-Sajdah 7 menyebutkan kata “Thien” dalam proses penciptaan Adam. Arti kata Thien secara bahasa adalah tanah / lumpur / pasir atau tanah kapur, sedang dalam hal ini, kata maksud dari kata Thien adalah atom zat air (Hidrogenium). Proses lainnya, ayat keempat; Surat As-Shaffat ayat 11 disebutkan kata “Lazib” yang dalam bahasa berarti tanah lumpur dan dalam proses kejadian manusia maksud dari Lazib adalah zat besi (Ferrum). Dalam surat kelima; Ali-Imran ayat 59 disebutkan kata “Thurab”. Secara bahasa artinya debu dan dalam hal ini maksud dari kata Thurab adalah unsur-unsur zat asli dalam tanah (Zat Anorganis).

Zat ini baru bisa terjadi setelah melalui persenyawaan antara Fakhar (Carbonium yaitu zat arang) dengan Shalshal (Oksygent atau zat pembakar), Hamain (Netrogenium atau zat lemas) dan Thien (Hidrogenium atau zat air). Atau persenyawaan antara ayat 14 kata Fakhar surat Ar-Rahman dan kata Shalshal dalam ayat itu dengan ayat 28 surat Al-Hijr dengan kata Hamain dan kata Thien dalam ayat 7 surat As-Sajdah. Kemudian bersenyawa dengan zat besi (Ferrum), Yodium, Kalium, Silicium dan Mangaan yang disebut Lazib (zat Anorganis) dalam surat As-Shaffat ayat 17. Setelah melalui persenyawaan tersebut lalu terbentuklah zat Protein yang disebut dengan kata Thurab seperti dalam ayat 59 surat Ali Imran. Salah satu zat utama dalam pembentukan Adam adalah Kalium yang, banyak terdapat dalam jaringan tubuh teristimewa didalam otot-otot. Zat ini sangat penting karena berperan dalam proses hayati yaitu pembentukan badan halus. Dengan berlangsungnya Proteinisasi maka menjelmakan proses pergantian yang disebut Subtitusi, setelah mengalami subtitusi lalu menggempurlah electron-electron sinar Cosmis yang mewujudkan sebab pembentukan (Formasi) atau sebab ujud (Cause Fortnatis), sinar Cosmis ialah sinar yang mampu merubah sifat zat yang berasal dari tanah untuk pembentukan badan kasar (Jasmaniah) seperti badan, kepala, tangan, kaki dan lain-lainnya hingga terbentuklah sosok fisik Adam. (KH. Bahaudin Mudhari Dialog Masalah Ketuhanan Jesus Hal. 75 -78. Kiblat Centre Jakarta 1981) Namun hanya sampai disini saja ilmu pengetahuan dapat menganalisa tentang pembentukan tubuh jasmani Adam, dan yang selebihnya hanya Sang Pencipta saja yang mengetahuinya. Adapun ayat ke 29 surat Al-Hijr adalah ayat yang menerangkan tentang kerohanian, yaitu setelah fisik Adam terbentuk, maka ditiupkan dalam fisik itu ruh ciptaan Allah.

Masuknya ruh kedalam jazad Adam ini melalui lubang ubun-ubun dikepala kemudian ruh itu menuju otak kemudian menuju mata hingga mata bisa melihat sekujur tubuhnya yang masih terbuat dari tanah, lalu ruh itu menuju telinga hingga telinga bisa mendengar suara tasbih para malaikat, kemudian menuju hidung dan menyebabkan bersin mengeluarkan sisa-sisa debu yang ada dilubang hidungnya, lalu menuju mulut mengisi lidahnya dan kata yang pertama kali diucapkan adalah Tahmid kepada Allah, lalu ruh tersebut menuju dada dan hatinya lalu menuju perut kemudian ruh tersebut menyebar keseluruh badan hingga terbentuklah tanah itu menjadi daging, darah, tulang dan organ-organ tubuh yang lainnya. (Imam Abdi Rahman bin Ahmad Al-Qhadhi Daqaiqul Akhbar Hal.4. Nur Asia Semarang)

Ruh tersebut kemudian terpecah menjadi tiga, yang pertama bertempat di hati, yang menjadi pemimpin dari ruh yang ada sekujur tubuh dan ruh tersebut disebut dengan ruh Shulthaniyah. Ruh kedua bertempat di otak, la adalah motor penggerak dari pemikiran-pemikiran yang menggerakkan semua organ tubuh, ruh tersebut disebut dengan ruh Ruhaniyyah. Sedangkan ruh yang ketiga bertempat di darah, la mengaliri sekujur tubuh hingga semua anggota tubuh yang teraliri darah mempunyai ruh yang mempunyai indra perasa. Sedangkan yang tak teraliri darah, tidak ada ruhnya hingga tidak mempunyai indra perasa seperti rambut, kuku dan gigi yang tidak merasakan sakit ketika di potong, ruh ini disebut ruh Jasmaniyyah. Apabila seorang manusia tertidur maka ruh yang ada di otakya terbang hingga ruh yang ada di darah tak dikendalikan oleh ruh ini hingga ketika ruh yang ada di darah ini menggerakkan anggota tubuh, maka manusia tidak menyadarinya dan disebut dengan mengigau. Terbangnya ruh yang ada di otak ini membentuk suatu gambaran yang kemudian menjadi mimpi. Apabila seorang mengalami koma dalam sakitnya maka yang pergi adalah ruh Jasmaniyyah, hingga la tidak bisa mengendalikan ruh yang ada di darah yang menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Meski hati dan otaknya bisa merasakan dan menghendaki sebuah gerakan dalam organ tubuhnya seperti tangan, tapi karena ruh yang menggerakkan anggota tubuh ini tak ada, maka manusia itu tak bisa bergerak. Dan ketika manusia meninggal dunia, maka ruh yang ada dihatinya kembali ke jasadnya untuk menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir dalam kuburnya. Ruh yang ada di hatinya ini adalah ruh yang suci hingga tak bisa mengatakan sesuatu yang tidak nyata dan tak mampu untuk berdusta, karena sesungguhnya dusta atau perbuatan yang ingkar manusia kepada Tuhannya adalah karena rekayasa dari ruh yang ada di otaknya. Pembahasan ruh ini tidak bisa di jelaskan, karena permasalahan ruh ini menjadi rahasia Tuhan yang tak bisa dilogika akal manusia. Firman Allah :”Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad SAW) tentang masalah ruh, maka katakanlah : Ruh itu adalah urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan, melainkan sedikit” (QS. 17 : 85)

Setelah Adam hidup dan bisa berfikir lalu Allah memberitahukan semua nama benda dan makhluk-Nya, kemudian mengemukakan kepada malaikat: “Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang merasa benar. mereka menjawab: Maha suci Engkau, tiada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami...” Karena malaikat tak mampu menyebut nama benda-benda dan Adam bisa menyebutkan nama¬-nama benda yang telah diajarkannya, maka Allah menyuruh kepada semua malaikat dan makhluk-makhluk hidup lainnya termasuk jin untuk menghormati Adam dengan bersujud. Tetapi satu dari mereka tidak mau bersujud, la yang benama Bal'an. Bal’an ini tidak mau bersujud karena merasa dirinya lebih mulia karena diciptakan dari api sedangkan Adam diciptakan dari tanah. Dan karena sikap keangkuhan yang merasa dirinya lebih mulia dan kedurhakaannya kepada Allah dengan tidak mau menuruti perintah Allah untuk bersujud kepada Adam, maka la dijuluki iblis yang artinya terlaknat atau durhaka. (QS. 2 : 31-34)

Sikap keangkuhan Iblis yang merasa dirinya lebih baik: “Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Adam diciptakan cuma dari tanah” ini yang membuat Allah murka dan mengusirnya dari syurga, “Turun kamu dari syurga! Tidak pantas kamu sombong dalam syurga, Keluar! kamu termasuk orang yang hina” Iblis dengan kedongkolannya dan keangkuhannyapun keluar dari syurga. Dalam dirinya tumbuh rasa dendam yang amat sangat terhadap Adam, la merasa dirinya terusir dari syurga tempat segala kenikmatan karena adanya Adam. Setelah permohonannya kepada Allah agar usianya diperpanjang terpenuhi, maka keluarlah sumpah Iblis: “Demi Engkau yang telah menghukum aku tersesat, Akan aku halangi mereka (Adam dan anak cucunya) dari jalan Engkau, akan aku datangi mereka dari muka, belakang, kanan dan kiri, akan Engkau temui kebanyakan dari mereka tidak akan taat kepada-Mu” (QS. 7 : 12-18)

Ketersesatan Iblis akan keangkuhannya yang menimbulkan dendam kepada Adam membuatnya tak pernah berhenti untuk menyesatkan Adam. Dengan tipu dayanya, Iblis memutar balikkan ketentuan Allah, dikatakan kepada Adam bahwa Allah melarang memakan buah ‘Fana’ karena Allah tidak menghendaki Adam menjadi malaikat atau abadi dalam syurga. Buah fana (kerusakan) dikatakannya dengan buah ‘Khuldi’ (buah keabadian), terbujuk dan tertipu oleh rayuan Iblis serta rengekan istrinya; Hawa, Adam memakan buah larangan tersebut. (QS. 7 : 20-21)


Sebagian riwayat mengatakan bahwa Iblis yang terusir dari syurga bisa masuk kedalam syurga untuk menyesatkan Adam karena merubah dirinya menjadi seekor burung, hingga Adampun tidak mengetahui kalau yang membujuknya adalah Iblis, bukan salah satu makhluk yang ikut menghuni syurga, seandainya Adam tahu kalau makhluk yang bersumpah bahwa dirinya adalah termasuk orang yang memberi nasehat itu makhluk jelmaan Iblis, tentu tidak akan diturutinya karena Allah sudah memperingatkan kepadanya agar tidak mendekati pohon larangan dan sudah diberitahukannya bahwa Iblis adalah musuhnya. (QS. 7 : 22) Namun kekuatan iman Adam untuk tidak mendekati pohon larangan itu akhirnya runtuh juga setelah istrinya terus mendesaknya agar memetik buah itu dan memakannya. Hal tentang bagaimana Iblis yang sudah terusir dari syurga bisa kembali masuk ke syurga untuk menggoda Adam atau Iblis menggodanya dari luar syurga hanya Allah saja yang tahu keadaannya.

Setelah buah itu dimakannya, maka terlepaslah semua pakaian syurga yang dikenakan oleh Adam dan istrinya. “Maka Syetan membujuk keduanya dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah mereka menutupinya dengan daun-daun Syurga” (QS. 7 : 22) Dan penyesalan tinggalah penyesalan, keadilan Allah terhadap Iblis yang terusir dari syurga juga menimpa Adam dan istrinya. Iblis terusir karena tidak memenuhi perintah Allah agar bersujud sedangkan Adam terusir dari syurga karena melanggar larangan Allah dengan memakan buah fana.

Turunnya Adam dari syurga bukanlah kesalahan mutlak Adam, karena memang itu hanya skenario Allah, seperti halnya yang difirmankan Allah dalam surat Al ¬Baqarah ayat 30 yang mengatakan bahwa Allah akan menjadikan khalifah dimuka bumi bukan di muka syurga. Dan karena itu Adam dicipta dari tanah bumi bukan dari debu syurga. Sedangkan peristiwa tentang melanggarnya Adam terhadap larangan mendekati buah kayu itu merupakan penjelasan Allah bahwa manusia selain diberi akal fikiran juga diberi hawa nafsu serta penjelasan Allah bahwa Iblis benar-benar membuktikan sumpahnya untuk menyesatkan seluruh anak cucu Adam. Sedangkan rengekan Hawa istrinya terhadap Adam adalah juga penjelasan Allah bahwa wanita memiliki nafsu yang lebih banyak daripada laki-laki.

Kedua manusia pertama itu menyesali dirinya dan memohon agar Allah mengampuni dosa-dosanya. Dengan sifat-Nya yang maha Pengampun, Allah mengampuni keduanya, namun ketentuan Allah untuk menciptakan manusia dimuka bumi ini tetap berlaku. Meski keduanya diampuni oleh Allah, namun keduanya tetap harus diturunkan kebumi dan keduanya diturunkan oleh Allah secara terpisah jauh. Keadaan mereka yang sendirian dimuka bumi membuat mereka saling mencari satu sama lain, hingga beberapa lama, akhirnya mereka bertemu disebuah padang tandus di sebuah bukit yang kemudian bukit itu diberi nama Bukit Arafah (Bukit pertemuan), diatasnya kemudian didirikan sebuah tugu untuk mengenang keduanya yang saling mencari dan akhirnya bertemu.


Tragedi pembunuhan pertama oleh manusia yang dilakukan oleh anak-anak Adam Qabil dan Habil adalah karena kesombongan seperti yang dilakukan oleh Iblis. Qabil yang bersaudara kembar dengan Ikrima, keduanya dianugerahi paras yang rupawan, sedangkan adiknya ; Habil yang bersaudara kembar dengan Labudza dianugerahi paras yang tidak serupawan kakaknya. Menurut ketentuan Allah pada waktu itu adalah perkawinan yang dilangsungkan harus bersilang, Qabil mengawini Labudza dan Habil kawin dengan Ikrima. Namun Qabil yang berparas lebih tampan dari pada Habil menolak mengawini labudza yang berparas sedang saja, ia ingin mengawini saudara kembarnya Ikrima yang berparas lebih cantik. Sifat Qabil yang keras kepala ini membuat Adam sebagai ayahnya tidak bisa mengambil keputusan, hingga akhirnya keputusan diserahkan kepada Allah dengan masing-masing mempersembahkan kurban yang diletakkan diatas sebuah bukit. Diantara kedua qurban yang dipersembahkan oleh kakan beradik ini, Allah menerima kurban Habil yang berupa sayur-sayuran dari pada kurban persembahan Habil yang berupa hewan ternak dengan sebuah kilat yang menyambar kurban persembahan Habil.

Atas keputusan Allah ini Qabil harus kawin dengan saudara Habil yaitu Labudza, namun keangkuhan hatinya yang terus disemai oleh Iblis membuat ia tega membunuh Habil adiknya, dan ini adalah sebuah tragedi pembunuhan pertama yang dilakukan manusia di atas bumi.

Tragedi penumpahan darah yang dilakukan Qabil ini membuat para malaikat semakin yakin bahwa manusia yang diciptakan oleh Allah akan berbuat kerusakan dan saling menumpahkan darah, mereka saling berbisik bahwa sesungguhnya malaikatlah yang lebih berhak mendapat kehormatan menjadi khalifah di muka bumi “Kami (malaikat) lebih berhak menjadi khalifah dimuka bumi karena kami selalu mensucikan Engkau” dan dalam bisik-bisik para malaikat: “Tuhan tidak akan menciptakan makhluk yang lebih mulia daripada kita”, meskipun jawaban itu sudah dijawab Allah: “Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kalian katakan tentang merasa berhaknya kalian menjadi khalifah dan mengetahui apa yang kalian sembunyikan tentang perbisikan kalian yang merasa lebih mulia” (Jallaludin Muhammad dan Jallaludin Abdi Rahman Tafshir Al-Jalallain Juz I hal.6. Toha Putra Semarang) Tapi demi membuktikan bahwa Adamlah yang berhak menjadi khalifah dimuka bumi maka Allah memberi kesempatan kepada malaikat untuk memilih tidak hanya satu malaikat tapi sekalian dua malaikat yang di pandang paling baik untuk dijadikan khalifah dimuka bumi. Dalam hal ini maka para malaikat memilih malaikat Idza dan malaikat Tajaza.

Dua malaikat yang dipandang paling pantas untuk mewakili para malaikat menjadi khalifah dimuka bumi, dan oleh Allah kedua malaikat itu diturunkan kebumi di tanah Babil pada masa Nabi ldris AS. Allah menjadikan dua malaikat itu manusia seperti halnya manusia pada umumnya yang juga mempunyai hawa nafsu, syahwat, rasa lapar dan semua watak manusia. malaikat Ijza bergelar Harut dan malaikat Tajaza bergelar Marut.

Sebagian mufashirin menceritakan setelah keduanya turun kebumi dan menjadi manusia, keduanya mulai berdakwah dengan mentauhidkan Allah serta memerangi sihir yang dilakukan para manusia. Namun karena keduanya juga manusia yang mempunyai nafsu, akhirnya keduanya mencintai seorang wanita bernama Zahra, ketika keduanya melamarya, wanita itu meminta syarat keduanya agar menyembah sebuah berhala, tapi oleh kedua manusia jelmaan malaikat itu ditolaknya. Karena tetap dalam dorongan nafsu, akhirnya kedua manusia itu kembali melamarnya. Dalam lamaran kedua ini, wanita itu merubah syarat yang pertama dengan syarat agar keduanya membunuh seorang anak kecil hasil hubungan gelap wanita tersebut dengan laki-laki lain dan untuk kedu kalinya Harut dan Marut menolak. Tapi dalam lamaran ketiga, wanita itu mengancam tidak akan memenuhi lamaran keduanya jika Harut dan Marut tidak mau memenuhi syarat yang ketiga yaitu meminum tuak. Kedua manusia jelmaan malaikat itu berfikir bahwa syarat ini lebih ringan dosanya daripada membunuh atau menyembah berhala, maka dengan dorongan nafsu syahwat akhirnya keduanya memenuhi syarat ketiga itu dan keduanya meminum tuak yang memabukkan dan menghilangkan kesadaran mereka yang menjadi khalifah dimuka bumi.


Dalam pengaruh minuman tersebut sempat terjadilah perbuatan zina yang seharusnya tidak terjadi, dan bocah kecil yang dulu sempat ditolak untuk dibunuhnya, atas permintaan wanita ini akhirnya dibunuh juga, hingga ketika mereka lepas dari pengaruh minuman keras, barulah mereka menyesali diri dan para malaikatpun menyadari bahwa tugas manusia sebagai khalifah dimuka bumi tidaklah ringan seperti yang mereka duga, karenaa sebagai manusia mereka tidak hanya diberi akal tapi juga dibekali dengan hawa nafsu, lalu kedua malaikat itupun memohon ampun kepada Allah dan kemudian keduanya dihukum gantung diatas sumur Barhud dengan kepala dibawah dan kaki diatas hingga hari Kiamat tiba. Sedangkan wanita yang menyesatkan kedua manusia jelmaan malaikat itu dikutuk oleh Allah menjadi bintang Zuhra (Venus). Tapi sebagian Mufashirin lainnya berpendapat bahwa Harut dan Marut hanyalah orang yang shaleh hingga seperti malaikat, dan sebagian mufashirin lainnya berpendapat bahwa keduanya adalah orang jahat yang pura-pura seperti malaikat, namun kebanyakan dari ahli tafsir ini meyakini bahwa Harut dan Marut adalah benar-benar manusia yang dijelmakan dari malaikat. (Al-Qur’an dan Terjemahnya Footnote ke 78 Hal. 28 Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an. Yayasan Penyelenggara Penterjemah al-Qur’an. Dep. Agama Dept. Agama RI 1984)

sumber : elang

No comments:

Post a Comment

Post a Comment